Indonesia yang diwakili oleh 2 tim, yaitu Tim Garuda Parahyangan dan Tim Crew berhasil meraih masing-masing juara I dan juara II dalam 11th LSI DESIGN CONTEST IN OKINAWA 2008. Tim Garuda Parahyangan meraih IEICE Communication Society Award sedangkan Tim Crew meraih LSI of the Year for Student dari The Semiconductor Industry Newspaper.
Lomba ini merupakan lomba desain chip tingkat Internasional yang beberapa jurinya berasal dari perusahaan-perusahaan multinasional dan besar dalam industri Elektronika, seperti Sony, Renesas, Synplicity, Xilinx dll. Pada lomba tahun ini bertopik merancang chip untuk melakukan fungsi enkripsi/dekripsi data menggunakan algoritma RSA yang banyak dipakai di Industri IT, baik internet, hand-phone, wireless dan lain sebagainya. Indonesia pun juga mendapat kehormatan bahwa dari 14 juri yang ada, salah satunya dari ITB, yaitu Dr. Sarwono Sutikno, yang pada lomba-lomba sebelumnya memimpin tim-tim dari ITB. Perlu diingat bahwa pada tahun-tahun sebelumnya, tim dari Indonesia juga berhasil meraih berbagai penghargaan pada ajang bergengsi ini. Tim-tim yang pernah mengharumkan nama Indonesia antara lain Tim Arjuna, Tim Larasati serta Tim VR46 yang berlaga di ajang yang sama 1 tahun yang lalu.
Pada ajang ini, Tim Garuda Parahyangan mengajukan desain berjudul RSA Enchiper Hardware Design Using Interleaved Algorithm with Dynamic Masking sedangkan Tim Crew mengajukan desain berjudul RSA Hardware Implementation Based on Pipeline Architecture of Montgomery’s Algorithm. Kedua tim dibimbing oleh Dr.Trio Adiono melalui kuliah Desain Sistem VLSI di STEI ITB.
Keberhasilan kedua tim untuk berlaga di Okinawa juga tidak lepas dari dukungan oleh berberapa pihak, baik itu perusahaan nasional ataupun pribadi, yaitu PT. Indosat, Bapak Bambang Sutedjo (PT.Hariff Daya Tunggal Engineering), Bapak Brata Taruna, PT. Graha Sarana Duta, PPI Okinawa, Alumni ITB, IOM ITB, dan berbagai pihak lainnya.
Foto kedua tim:
Pemberian penghargaan untuk Juara I dan Juara II, diwakili oleh Dr. Trio Adiono sebagai pembimbing kedua tim:
Tim Indonesia masuk koran harian Jepang:
6 orang peserta dari Indonesia dan Profesor dari Ryuku Univ., Tomohisa Wada:
Selamat kepada Tim Garuda Parahyangan dan Tim Crew.
Tentunya kami semua bangga dengan prestasi ini.
Jempol jempol deh,
Salam,
Mantep Ki… terus semangat ya!
Di Jpg ada perusahaan Oki Electric, siapa tau suatu saat bisa take-over..
btw, gw pindah blog.. jd sama2 WP..
Selamat utk Mas Oky dkk semoga makin mak nyuss utk ke depannya…
sk4dhoet @siemensxp
Assalamu’alaykum…
Wah, oky semakin hebat aja.
Sukses buat oky.
Abis ke jepang trus kemana lagi nih?
Perusahaan Fabless IC design di Indonesia ada berapa? Dan masing-masing spesialisasi produknya apa aja? Mau gabung juga nih di IC design, mudah2an Indonesia bisa lebih hebat dari China
Sementara ini yang saya tahu baru Versatile Silicon Technologies, perusahaan ini berkolaborasi dengan PT.Dama Persada sedang mengembangkan chip Xirka, yaitu chip Wimax Indonesia. Ayo, kita majukan dunia IC Design Indonesia!
intinya ada di algoritma, ambil aja algoritma yg sudah dibikin orang laen,, lalu masukin ke FPGA, jadi dech …
sing canggih itu ya pak Ron Rivest, Adhi Samir yg bikin algoritma, kita sih cuman masukin nya ke dalam, jadi dech
@ivan:
nah, proses “masukin nya ke dalam, jadi dech” itu yg butuh optimasi. algoritma itu kan cuma deskripsikan proses sekuensial. Sedangkan di FPGA, kita harus implementasikan rangkaian elektronika digital disana. Paradigma algoritma yang sekuensial harus kita ubah ke paradigma pararel karena pada dasarnya rangkaian elektronika itu bekerja pararel. Itu yang gak bisa sembarangan. Makanya ada konsep pipelined, ada konsep carry save adder, montgomery multiplication dsb. Itu semua konsep-konsep yang harus kita implementasikan ketika mencoba melakukan implementasi perhitungan RSA ke dalam rangkaian digital, baru kemudian masuk ke FPGA.
Lagian kalo menurut saya orang yang paling hebat bukan si Rivest-Shamir-Adir, karena kerja mereka sebenernya juga berdasarkan kerja dari orang2 sebelumnya, algoritma RSA itu intuitif dan base dari permasalahan klasik. Justru orang-orang yang paling hebat adalah orang-orang yang berfikir keras bagaimana mengimplementasikan perhitungan yang dirancangan trio RSA, agar dapat direalisasikan, baik hardware maupun software seperti Montgomery atau Karatsuba, dll. Karena mereka, operasi perhitungan pangkat 2048-bit yang awalnya terdengar impossible menjadi possible